Dilema Gen-Z dalam Keluarga Kejawen

0

Sewcazual.com – Berikut adalah artikel mengenai Dilema Gen-Z dalam Keluarga Kejawen yang kami rangkum dari kaskus, silahkan disimak . dan jangan lupa di share ya tentang Dilema Gen-Z dalam Keluarga Kejawen

Dilema Gen-Z dalam Keluarga Kejawen

Cangkeman.net – Menjadi generasi yang sudah dimanjakan oleh teknologi semenjak lahir, saya dan Gen Z lainnya secara alami akan mengalami dilema saat menghadapi berbagai hal tidak relevan atau cara-cara yang super ribet ketika banyak sekali alternatif yang jauh lebih efektif untuk mencapai tujuan tertentu.

Sebagai contoh, yang sekaligus saya alami baru-baru ini. Laptop saya rusak di bagian motherboard-nya. Yap…laptop satu-satunya sejak kelas 1 SMA ini masih saya gunakan untuk bekerja. Karena apa? Karena kita tidak punya uang, kata pak Prabowo hehe..

Biaya untuk ganti motherboard terbilang mahal, rasanya lebih baik bila saya beli laptop baru saja, tentunya harus nabung dulu ya..

Setelah uang berhasil terkumpul, saya mengira jalan untuk membeli laptop baru akan mulus-mulus saja. Saya lupa bahwa bapak dan nenek saya sangat pandai menghitung hari baik / buruk berdasarkan hari kelahiran. Entah dari mana mereka mempelajari primbon yang terkadang merepotkan bagi saya (juga merepotkan bagi mereka sendiri tanpa mereka sadar atau bahkan mengakui).

Misalnya, jika ingin membeli hewan ternak harus di-ringkel jelmo. Di mana mereka akan menunggu sampai ringkel itu datang, tapi biasanya mereka akan keduluan oleh orang lain yang lebih sat set..

Begitupun juga dengan barang elektronik, ada perhitungannya tersendiri. Cashback, gratis ongkir, dan berbagai promo di olshop membuat saya geli untuk segera check-out, apalagi promo tersebut berbatas sampai tanggal tertentu. Dan hari baik yang telah dihitung tidak jua kunjung datang

Terkadang terbesit di dalam kepala untuk diam-diam membeli si laptop idaman. Selagi promo masih ada ya kan?

Lagian muka saya terlalu tipis untuk pinjam laptop secara terus-terusan, ya walaupun laptop teman saya ini terbilang jarang dipakai sih, dan hampir tergolong mubazir hehe.. tapi tetap saja tidak seperti kalau pakai barang sendiri.

Paling mengesalkan saat berbagai ide untuk menulis berdatangan dan saya ingat kalau laptop saya sedang sekarat. Mau beli tapi terhalang hal seperti ini dan laptop milik teman juga sudah kadung saya kembalikan.

Oleh karena itu, artikel ini saya tulis pakai HP karena sudah tidak sabar lagi untuk curhat di Cangkeman.

Kalaupun tulisan ini lolos berarti ada dua kemungkinan, pertama tulisan saya memang bagus dan yang kedua kurator Cangkeman sedang gabut dan tidak mager untuk merapikan tulisan ini hehe..

Sebenarnya ada yang lebih mengesalkan lagi, di mana saat bapak dan nenek saya berbeda pendapat. Saya seperti mendengarkan perdebatan antara Dr. Strange dengan Scarlet Witch tentang hal magis yang saya sendiri tidak paham

Sekeras apapun rasionalitas saya berspekulasi tentang untung-rugi, jiwa intelektualitas saya selama ini selalu kalah dengan rasa tidak enak terhadap keluarga saya, pemeluk budaya jawa yang sangat kental.

Saya juga takut kalau nanti laptop saya tidak awet seperti pernikahan yang melanggar sistem weton. Walaupun belum teruji secara saintifik namun apa salahnya untuk menghindari resiko buruk? Hahaha..

Pada akhirnya, saya tidak masalah bila berbagai promo tersebut harus hangus, yang penting hubungan saya dan keluarga tidak ikut hangus. Yaa..begitulah saya kadang mengalah dan ada pula saat di mana keluarga saya yang gantian mengalah.

Saya tidak setuju bila Gen Z atau anak jaman sekarang dibilang tidak cinta budayanya sendiri, karena kodrat manusia pasti akan mencintai budaya dan tanah air tempat kelahirannya. Gen Z pasti bisa menyesuaikan dirinya

Namun jangan lupa bahwa manusia secara alami juga akan cenderung memilih hal yang praktis dan lebih masuk akal. Hanya hal yang relevan saja yang akan dipeluk erat, sedangkan hal-hal kolot dan jumud sudah pasti ditinggalkan.

Itu bagus. Bayangkan generasi yang cekatan, menguasai teknologi, bahkan sangat mungkin melahirkan teknologi baru, namun memegang teguh filosofi jawa terutama sikap santun dan pandai membaca tanda-tanda. Pasti keren banget.

Salam hangat untuk seluruh Gen Z dari berbagai suku dan pulau, selamat berdamai dan juga berbaur dengan budaya masing-masing tanpa kehilangan jati diri sebagai generasi yang katanya kreatif dan punya segudang solusi”

Selamat berproses !

Tulisan ini ditulis oleh Galih Agus Santos di Cangkeman pada tanggal 29 Juni 2022

Leave A Reply

Your email address will not be published.