Cuaca Ekstrem Embun Beku di Lanny Jaya Papua, Empat Orang Meninggal

0

Merdeka.com – Merdeka.com – Embun beku melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lanny Jaya, Papua, menyebabkan empat warga meninggal. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat cuaca ekstrem tersebut terjadi di Kampung Kuyawage, Kampung Luarem dan Jugu Nomba.

Selain menyebabkan kematian, cuaca ekstrem juga mengakibatkan masyarakat mengalami kelaparan karena hasil bercocok tanam mengalami gagal panen.

“BMKG baru mendapat laporan terjadinya embun beku di Kabupaten Lanny Jaya setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua pada tanggal 29 Juli 2022,” kata Kepala Balai Besar Meteorologi dan Geofisika Wilayah V Jayapura, Hendro Nugroho. Dikutip dari Antara, Rabu (3/8).

Sesuai dengan prakiraan BMKG di Kabupaten Lanny Jaya yang termasuk dalam ZOM 340, awal musim kemarau terjadi pada Dasarian I Juni 2022.

Disebutkan pula bahwa pada saat musim kemarau ada beberapa hal yang terjadi, antara lain penurunan curah hujan dikarenakan potensi pembentukan awan cenderung tidak signifikan.

Dia mengemukakan bahwa pertumbuhan awan yang tidak signifikan menyebabkan suhu udara menjadi lebih dingin. Hal ini karena panas yang diterima dapat langsung dipantulkan kembali ke luar bumi, udara akan terasa lebih dingin dikarenakan massa udara dari selatan yang bersifat kering dan dingin.

Berikutnya, evapotranspirasi mengakibatkan tumbuhan makin kering dan tidak dapat bertahan hidup. Berdasarkan analisis hujan Dasarian III Juni hingga Dasarian I Juli di Lanny Jaya, termasuk dalam kategori menengah hingga rendah dengan curah hujan antara 25 dan 75 mm/dasarian.

Suhu udara minimum di Jayawijaya berkisar 12—15 derajat Celsius. Dalam hal ini, kata Heru Nugroho, suhu udara di Lanny Jaya dapat lebih rendah karena perbedaan ketinggian antara Lanny Jaya dan Jayawijaya.

548 Kepala Keluarga Terdampak

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua melaporkan bencana embun beku yang terjadi di Kabupaten Lanny Jaya menyebabkan 548 kepala keluarga terdampak, empat orang meninggal, di antaranya anak-anak.

BPBD Papua mengirim tim ke Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya untuk melihat langsung situasi wilayah bencana alam berupa embun beku itu, guna menentukan penanganan lebih lanjut.

Kepala BPBD Papua Wiliam Manderi mengatakan, tim berjumlah dua orang itu berangkat ke Wamena lalu ke Tiom dan bersama BPBD Kabupaten Lanny Jaya kemudian ke Kuyawage.

“Kami masih menunggu hasil laporan staf yang ke Kuyawage untuk memastikan langkah selanjutnya yang akan diambil,” kata dia.

Tidak ada masyarakat yang mengungsi, sedangkan Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya sudah memberikan bantuan ke warga.

Dia menyebut untuk mencapai Kuyawage hanya dapat dilakukan dengan menggunakan pesawat kecil.

Rekomendasikan KLB

BPBD Papua merekomendasikan dilakukannya kaji cepat penentuan kejadian luar biasa (KLB), untuk memenuhi kebutuhan warga akibat rusaknya lahan di tiga kampung di Kabupaten Lanny Jaya akibat embun beku.

“Sebanyak 56 lahan perkebunan ubi jalar dan sayur-sayuran di Kampung Lauren dan Jugu Nomba rusak akibat fenomena alam itu,” kata Manajer Pusat Pengendalian Operasi BPBD Provinsi Papua Jonathan Koirewoa.

Pihaknya juga merekomendasikan pendampingan manajemen penanganan darurat untuk mendukung BPBD Lanny Jaya.

Bantuan Beras Dikirim

Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya telah mengirim 8,9 ton beras untuk warga yang terkena bencana kekeringan di Distrik Kuyawage.

Sekretaris daerah (Sekda) Kabupaten Lanny Jaya Tendien Wenda mengatakan, pihaknya baru mengetahui adanya kekeringan di distrik itu.

“Kami pemerintah daerah, telah mengambil langkah untuk mengatasinya. Beras 8,9 ton yang sudah diturunkan dengan sembilan bahan pokok lengkap. Sudah dikirim ke Kuyawage,” katanya.

Sekda mengatakan bencana kekeringan ini berada pada skala sedang atau berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang cukup parah.

Ia memastikan pemerintah telah menyiapkan penanganan lebih lanjut sebab biasanya setelah bencana kekeringan, akan diikuti dengan hujan es.

“Kalau hujan es turun maka semua tanaman yang sudah kering, bahkan ubi atau keladi yang ada di dalam tanah itu membusuk dan bau. Itu yang biasanya membuat masyarakat mengungsi ke daerah Puncak, Puncak Jaya, Lanny Jaya dan sekitarnya,” katanya. [cob]

Leave A Reply

Your email address will not be published.